Melansir https://ezroni.id/ Sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Trucuk, Klaten, Jawa Tengah, menjadi pusat perhatian publik setelah terbongkarnya kasus pencampuran bahan bakar jenis Pertalite dengan air sebanyak 4 ton. Insiden ini terungkap setelah sejumlah konsumen melaporkan kendaraan mereka mogok tak lama setelah mengisi bahan bakar di SPBU tersebut.
Aparat kepolisian Polres Klaten segera melakukan penyelidikan setelah menerima aduan dari masyarakat. Hasil pengecekan awal menunjukkan kandungan air yang sangat tinggi di dalam tangki penyimpanan Pertalite. Hal ini langsung menimbulkan kekhawatiran besar karena selain merugikan pengguna, tindakan tersebut juga sangat membahayakan mesin kendaraan.
Tidak hanya merusak kendaraan, peristiwa ini juga mencoreng kepercayaan masyarakat terhadap distribusi BBM di wilayah tersebut. SPBU tersebut akhirnya dihentikan operasionalnya sementara oleh Pertamina untuk penyelidikan lebih lanjut.
Modus Kecurangan Terungkap: Peran Sopir Tangki BBM
Dalam konferensi pers yang digelar oleh Kapolres Klaten, AKBP Warsono, diungkapkan bahwa aksi tersebut dilakukan oleh dua orang awak truk tangki BBM yang bertugas mengantarkan Pertalite dari depot Pertamina ke SPBU. Mereka memanfaatkan celah saat pengiriman dengan cara menurunkan sekitar 4.000 liter air ke dalam tangki penyimpanan BBM di SPBU.
Sopir dan kernet truk tangki kini telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Berdasarkan pengakuan awal, tindakan tersebut dilakukan demi keuntungan pribadi. Mereka sengaja mengurangi jumlah BBM yang seharusnya dikirim dan menggantinya dengan air untuk memperoleh selisih dari penjualan BBM yang tidak disalurkan.
Kedua pelaku kini dijerat dengan pasal terkait penggelapan dan merusak kualitas bahan bakar yang dapat membahayakan orang lain, dengan ancaman hukuman penjara maksimal lima tahun.
Tanggapan Pertamina dan Langkah Tegas yang Diambil
PT Pertamina Patra Niaga memberikan tanggapan resmi atas insiden tersebut. Mereka menyatakan sangat menyesalkan peristiwa ini dan telah memutuskan untuk menghentikan sementara distribusi BBM ke SPBU Trucuk Klaten sampai investigasi selesai dilakukan. Selain itu, Pertamina juga menyebutkan telah memecat kedua pelaku yang merupakan mitra operasional.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting, menjelaskan bahwa pihaknya memiliki sistem pengawasan ketat, namun kejadian ini menunjukkan perlunya peningkatan pengawasan pada lini distribusi. “Kami tidak akan mentoleransi kecurangan yang merugikan masyarakat. Pelaku sudah kami serahkan ke pihak berwenang dan akan dikenakan sanksi tegas,” ujarnya.
Pertamina juga akan memperbaiki sistem audit internal serta memasang sensor pemantau distribusi yang lebih canggih guna mencegah kejadian serupa di masa depan.
Dampak bagi Konsumen dan Upaya Ganti Rugi
Sebanyak 12 kendaraan dilaporkan mengalami kerusakan mesin akibat pengisian Pertalite bercampur air dari SPBU tersebut. Kerusakan bervariasi mulai dari mesin mati mendadak hingga kerusakan pada sistem bahan bakar yang memerlukan biaya perbaikan cukup besar.
Pertamina menyampaikan komitmennya untuk memberikan kompensasi kepada konsumen yang dirugikan. Saat ini, mereka tengah mendata para korban dan bekerjasama dengan bengkel resmi guna memastikan kendaraan dapat diperbaiki dengan standar terbaik tanpa membebani pemiliknya.
Masyarakat pun diimbau untuk lebih waspada dan melaporkan jika menemukan indikasi BBM oplosan atau keluhan serupa. Pertamina membuka layanan pengaduan khusus terkait kualitas BBM di nomor kontak resmi dan aplikasi MyPertamina sebagai bentuk transparansi.